Ini cerita 6 hari yang lalu.
Januari, tepat tanggal 1, tengah malam.
Saat gelap gempita menyesakan udara, tiup terompet memekakan telinga, pendar cahaya kembang api mengganggu hitamnya langit malam. Di sisi bawah dari rembulan yang terkalahkan kembang api, kepulan asap dari panggangan terus naik dan naik membumbung ke udara, menggoyahkan kelenjar "saliva" supaya memproduksi lebih banyak lagi tetesan-tetesan air mulut itu.
Sementara itu, masih dibawah ledakan-ledakan berwarna dilangit hitam yang bersahutan. Aku tengadah menatap penuh kembang api diatas sana.
Indah ? Harus ku akui... iya
Tapi, sampai kapan indahnya bertahan? Hanya beberapa detik kemudian hilang digantikan ledakan yang lain. Jika persediaan habis, maka indahnya habis. Secara tidak langsung, kita semua tahu kalai indahnya kembang api akan segera menghilang. Menikmatinya adalah sebuah tipuan keji, menghayatinya adalah menimbun kerinduan dimasa depan.
Indah kemudian pergi dengan cepat?
Hanya mendapat secuil bahagia, kemudian rindu tak terhingga yang entah terselesaikan atau tidak.
Ya, kembang api maafkan aku menyalahkanmu karena kemampuanmu hanya segitu. Aku hanya berpendapat tentangmu. Karena aku hingga detik ini masih belum paham pada mereka yang menikmati kau terbakar.
Hei kembang api, sakitkah rasanya dibakar? Bagaimana rasanya meledak? Apakah kamu bahagia seperti manusi yang menyorakimu, bahkan hingga ia lupa usianya?
Jika kamu senang bisa meledak supaya orang lain senang, maka kamu mulia. Tapi maaf, aku adalah pengecualian. Aki tak senang.
Aku tidak membencimu, kembang api.
Aku hanya benci harus menyukai kemudiam merindu.
