Sabtu, 23 Februari 2019

Pesona Malam Alun-Alun Bandung

Hai... Apa kabar malam ?
Apa kabar Bandung ?
Sudah lama rasanya, diriku tak berpijak di suasana malam kota Bandung. Dan akhirnya, sekarang ku berpijak kembali. Menikmati suasana malam, udara malam, dan keindahan lampu-lampu jalan yang menghiasi malam ini.

Ahhh... Entah kenapa, selalu saja di buat terpesona oleh indahnya malam.

Kali ini, diriku terdampar disebuah tempat yang sudah tak asing. Yang selalu ramai pengunjung, baik di siang hari atau pun malam hari.

Tempat apa itu???

Ya Alun-Alun Bandung. Tempat yang tak asing bukan di telinga kalian ????

                 

Alun alun Bandung adalah salah satu tempat yang menjadi lokasi wisata favorit di Bandung, kini tampilannya benar – benar mempesona dan sangat manis. Setelah dilakukan renovasi yang cukup panjang akhirnya alun – alun Bandung sudah hadir dengan wajah barunya yang mempesona dan membuat orang betah untuk berada di sini. (*Termasuk diriku sendiri yang telah di buat betah, walaupun hanya duduk di pinggiran taman, sambil bercengkrama dan melihat laju jalanan yang macet)

Apalagi muda mudi yang suka nongkrong bareng. Alun Alun Bandung sangat cocok dijadikan tempat hangout bareng. Padahal dahulunya Alun Alun Bandung adalah tempat bersejarah yang sering dipakai untuk menggantung tahanan bahkan sempat dijadikan lapangan sepak bola. Namun sekarang tampilannya benar – benar sudah sangat modern.
     
                   

Selain ramai oleh pengunjung, tempat ini juga ramai oleh para pedagang asongan seperti halnya semalam. Banyak penjual setangkai bunga asongan. Bahkan kami pun sempat di tawari. Selain itu banyak juga pengamen-pengamen berkeliling menyanyikan sebuah lagu untuk mendapatkan uang. Selain dari itu ada juga beberapa mahasiswa dari universitas ****** yang sedang melakukan promotion sebuah produk minuman homemade. (*keknya tugas kampus deh kaya produk porftolio kalau ga salah 😁😁😁)

Namun, ada sedikit kekecewaan sih ketika malam itu. Yang biasanya selalu ramai banyak stand-stand makanan. Ehh ini kagak ada. Mungkin karena bukan malam minggu atau hari minggu kali yah.

Tapi, itu semua tak membuat diriku lupa bahagia haha. Tetap senang dan bahagia karena dapat menikmati suasana malam kembali.

Terimakasih.


Sabtu, 16 Februari 2019

Aku dan Malam

Aku mencintai malam, melayari sayap-sayapnya dengan menulis dan menikmati instrumental lagu. Seperti seorang gadis kecil yang menemukan rumah kayunya di pinggir sungai berbatu-batu. Asyik bersunyi dengan rasa yang entah kunamakan apa. Hanya aku dan aksara.

Aku dan malam adalah tak berbeda dengan tak sedikit insan yang karib padanya.
Menuliskan banyak hal, hal yang berdesak-desakkan di benak, hal yang berhimpitan dalam rasa. Yang sering tak mungkin kuungkapkan dalam lisan atau tak bisa kulukiskan dalam bahasa perbuatan.

Pada kanvas malam, kutuliskan apa saja yang kuingin menjadi. Tak sebatas khayal, kugoreskan segala impian pada gugusan aksara, menjadikannya galaksi kisah-kisah yang berrotasi pada sumbu imajiku. Banyak hal yang ingin kuterjemahkan dalam barisan pasal, hanya sekedar untuk mewujudkan bayanganku tentang kasih dan cinta. Atau, tak sedikit perihal yang ingin kusketsa agar dapat mendzahirkan rekaanku tentang duka nestapa. Hingga gema adzan shubuh mengingatkanku, bahwa gulita telah berlalu.

Namun, sering malamkupun hanya berarti secangkir coklat hangat dan beberapa buku yang tak tuntas kueja. Hanya membuka-buka halamannya,dan menikmati ilustrasinya, atau sekedar mengagumi kata pengantar dan kesimpulannya saja. Ya, sering malamku sesederhana itu. Yang setiap kali kudapati dari yang sederhana itu tersimpan apa yang dikata orang tentang kebahagiaan. Kebahagiaan yang mungkin tak bisa kutemukan pada riuh keramaian.

Terkadang, malamku bertema pena, buku dan ponsel. Hanya untuk menorehkan coretan demi coretan yang terlintas dalam pikiranku. Ah malam memang luar biasa. Selalu mengurai masalahku dengan cara yang ajaib dan membuatnya lebih berwarna.

Kisah-kisah malam tentang munajat cinta yang dilarung insan dalam gelombangnya yang tenang. Diantara thawaf sang tasbih dalam jemari dan teritis air mata yang bermuara di sajadah suci. Aku, dalam kemarau imanku dan meranggasnya reranting ilmuku, dengan hati malu turut hadir dalam syahdunya kelam, bersama rembulan adukan segala kelemahan dan permohonan ampunan atas segala kekhilafan. Kepada Sang Pemilik Alam bertangisan tersedu sedan. Sungguh, ada hal yang tak bisa dilakukan siang sebagaimana yang telah dilaksanakan malam.

Aku mencintai malam, mengutip kelembutan heningnya yang berdaya maha. Memetik kembang-kembang hikmahnya yang bergelantung  di asterix nan tinggi. Mengayuh biduk nan lelah untuk menepi.

Minggu, 03 Februari 2019

Nanatsu No Taizai Movie


Heiyoooooo.....!!!!!!!

Kali ini saya akan mengulas film layar lebar anime yang merupakan bagian dari franchise Nanatsu no Taizai (Seven Deadly Sins) yang berjudul Tenkuu no Torawarebita (Prisoners of the Sky) . Tentunya bagi para penggemar serial Nanatsu no Taizai pasti bakal exciting sama film yang satu ini, termasuk saya. Lalu apakah film ini bisa dikategorikan sebagai film bagus? Hmmm, yuk simak ulasannya di bawah ini.

Tujuh Pendosa Besar menuju pulau tepencil untuk mencari Ikan Langit. Meliodas dan Hawk tiba di Kuil Langit yang berada di atas awan. Semua penghuni di sana memiliki sayap. Meliodas dijebloskan ke penjara karena dianggap sebagai anak jahat. Sementara itu, penduduk sedang mempersiapkan upacara untuk menghadapi binatang buas yang terbangun tiap 300 tahun sekali. Akan tetapi, pasukan klan iblis, Enam Ksatria Hitam datang dan melepas segel binatang itu, dan Kuil Langit dalam kondisi bahaya.

Okay dari segi plot menurut saya cukup membosankan dan biasa-biasa saja, film ini mempunyai konsep isekai anime musiman, yang jalan ceritanya mudah sekali untuk ditebak. Dimana sang karakter utama tiba-tiba masuk ke isekai (Kuil Langit) dan di sana ada iblis yang tersegel dan entah bagaimana segelnya lepas dan boom! Pertempuran antara pahlawan dan iblis.

Jalan cerita yang terkesan biasa, namun film ini mampu mengemasnya dengan aksi yang cukup seru dan menegangkan.
Porsi aksi dan komedinya ditampilkan dengan porsi yang pas, sehingga saat menonton Nanatsu no Taizai kita tidak akan selalu dibuat tegang. Pertarungan karakter yang overpower memang selalu menjadi adegan yang seru dan menegangkan, apalagi kalau lawannya Iblis.

Film ini diawali dengan kesalahpahaman hingga pertengahan film. Di sepanjang film tak terlihat satu pun Klan Bersayap menunjukkan jurus ARK-nya (kecuali si Nenek, tapi ternyata kurang kuat), namun di akhir film mereka semua mengeluarkan jurus ARK-nya. Kenapa gak dari tadi ngeluarin jurusnya ya. Jujur di sini antagonisnya lembek banget, apa karena Nanatsu no Taizai yang terlalu over power?

Oke kita bahas karakter dari film Nanatsu no Taizai ini. Karena memang karakter utamanya sama seperti yang di serialnya, maka gak perlu lagi dilakukan pengembangan karakter untuk Nanatsu no Taizai, karena pastinya penonton sudah tahu kemampuan mereka masing-masing.

Tambahannya mungkin cuma sebagian kecil petunjuk dari kemampuan Elizabeth. Sayang sekali di sini kita tidak mendapatkan penjelasan kenapa Solaad dan Ellete bisa mirip Meliodas dan Elizabeth. Pengembangan karakter untuk Solaad dan Ellete juga saya rasa kurang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, di sini karakter antagonisnya yaitu Enam Ksatria Hitam dan kroco-kroconya, saya rasa terlalu lembek. Dan ngomong-ngomong iblis Singa-nya di sini cuma jadi badut belaka dan si iblis kaleng-kaleng kemampuannya juga terlalu lemah. Seperti biasa karakter favorit saya di Nanatsu no Taizai adalah Hawk, karena dengan adanya dia, film ini gak terasa hambar.

Film ini masih menggunakan soundtrack yang sama seperti serialnya. Dan penempatan soundtrack di adegan-adegan film ini, saya rasa pas. Apalagi pas adegan pertarungannya, didukung dengan soundtrack yang pas dan bersemangat , tentunya ini menambah ketegangan dan keseruan saat menonton film ini. Saya suka banget sama lagu penutupnya yang berjudul “Sora Tobira” yang dibawakan oleh grup idol Nogizaka46 dan lagunya enak cukup enak di dengar.

Dari segi visual gak ada perubahan dari serialnya, film ini masih menggunakan visual yang sama seperti di serialnya. Mungkin cuma sedikit penambahan detail, terutama di adegan pertarungannya. Latarnya digambar dengan begitu apik, mengingat ini garapan studio kondang A-1 Pictures. Saya paling suka sama desain karakter dari Berlion yang mirip sama Ban, meski begitu mereka sepertinya terkesan malas untuk menciptakan desain karakter baru. Tapi secara keseluruhan saya suka sama visualnya.

Okay jadi kesimpulannya, anime ini cukup enjoyable. Terutama buat para penggemar Nanatsu no Taizai, tentunya kalian gak boleh melewatkan film yang satu ini. Meski memiliki plot yang hambar, akan tetapi mereka bisa menebusnya dengan menyajikan adegan pertarungan yang super epic . Jadi saya cukup menikmati film ini secara keseluruhan.