Sabtu, 16 Februari 2019

Aku dan Malam

Aku mencintai malam, melayari sayap-sayapnya dengan menulis dan menikmati instrumental lagu. Seperti seorang gadis kecil yang menemukan rumah kayunya di pinggir sungai berbatu-batu. Asyik bersunyi dengan rasa yang entah kunamakan apa. Hanya aku dan aksara.

Aku dan malam adalah tak berbeda dengan tak sedikit insan yang karib padanya.
Menuliskan banyak hal, hal yang berdesak-desakkan di benak, hal yang berhimpitan dalam rasa. Yang sering tak mungkin kuungkapkan dalam lisan atau tak bisa kulukiskan dalam bahasa perbuatan.

Pada kanvas malam, kutuliskan apa saja yang kuingin menjadi. Tak sebatas khayal, kugoreskan segala impian pada gugusan aksara, menjadikannya galaksi kisah-kisah yang berrotasi pada sumbu imajiku. Banyak hal yang ingin kuterjemahkan dalam barisan pasal, hanya sekedar untuk mewujudkan bayanganku tentang kasih dan cinta. Atau, tak sedikit perihal yang ingin kusketsa agar dapat mendzahirkan rekaanku tentang duka nestapa. Hingga gema adzan shubuh mengingatkanku, bahwa gulita telah berlalu.

Namun, sering malamkupun hanya berarti secangkir coklat hangat dan beberapa buku yang tak tuntas kueja. Hanya membuka-buka halamannya,dan menikmati ilustrasinya, atau sekedar mengagumi kata pengantar dan kesimpulannya saja. Ya, sering malamku sesederhana itu. Yang setiap kali kudapati dari yang sederhana itu tersimpan apa yang dikata orang tentang kebahagiaan. Kebahagiaan yang mungkin tak bisa kutemukan pada riuh keramaian.

Terkadang, malamku bertema pena, buku dan ponsel. Hanya untuk menorehkan coretan demi coretan yang terlintas dalam pikiranku. Ah malam memang luar biasa. Selalu mengurai masalahku dengan cara yang ajaib dan membuatnya lebih berwarna.

Kisah-kisah malam tentang munajat cinta yang dilarung insan dalam gelombangnya yang tenang. Diantara thawaf sang tasbih dalam jemari dan teritis air mata yang bermuara di sajadah suci. Aku, dalam kemarau imanku dan meranggasnya reranting ilmuku, dengan hati malu turut hadir dalam syahdunya kelam, bersama rembulan adukan segala kelemahan dan permohonan ampunan atas segala kekhilafan. Kepada Sang Pemilik Alam bertangisan tersedu sedan. Sungguh, ada hal yang tak bisa dilakukan siang sebagaimana yang telah dilaksanakan malam.

Aku mencintai malam, mengutip kelembutan heningnya yang berdaya maha. Memetik kembang-kembang hikmahnya yang bergelantung  di asterix nan tinggi. Mengayuh biduk nan lelah untuk menepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar