Jumat, 29 Juni 2018

Waduk Saguling

Waduk saguling adalah waduk buatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat pada ketinggian 643m diatas permukaan laut. Waduk ini merupakan salah satu dari tiga waduk yang membenclung aliran sungai citarum yang merupakan sungai terbesar di Jawa Barat. Dua waduk lainnya adalah waduk Jati luhur dan Waduk Cirata.

Semula, waduk saguling direncanakan hanya untuk keperluan menghasilkan tenaga listrik. Pada tahap pertama pembangkit tenaga listrik yang dipasang berkapasitas 700mw, tetapi bila di kemudian hari ada peningkatan kebutuhan listrik, pembangkit dapat ditingkatkan hingga mencapai 1.400mw. Badan yang bertanggung jawab dalam pembangunannya adalah Proyek Induk Pembangkit Hidro (PIKITDRO) dari perusahaan Listrik Negara (PLN), Departemen perkembangan dan Energi (sekarang menjadi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia). Selanjutnya, dengan mempertimbangkan permasalahan lingkungan di daerah itu, Saguling ditata ulang sebagai bendungan multiguna, termasuk untuk kegunaan pengembangan lain seperti perikanan, agri-akuakultur, pariwisata, dan lain-lain. Sekarang, waduk ini juga digunakan untuk kebutuhan lokal, seperti mandi, mencuci dll. Hal ini membuat waduk saguling kondisinya lebih mengkhawatirkan ketimbang waduk cirata dan waduk jatiluhur yang sudah dibangun lebih dahulu. Hal tersebut terjadi karena sebagai pintu pertama sungai citarum, di saguling inilah semua kotoran "disaring" untuk pertama kali sebelum kemudian disaring kembali oleh waduk citata dan terakhir oleh waduk jati luhur.


Daerah disekitar waduk saguling berupa perbukitan, dengan banyak sumber air yang berkontribusi pada waduk. Hal tersebut membuat bentuk waduk saguling sangat tidak beraturan dengan banyak teluk. Daerah waduk ini asalnya adalah berupa daerah pertanian. Daerah perikanan dari waduk berhadapan dengan tekanan kuat dari populasi penduduk. Hal tersebut terjadi karena 50% dan populasi terdiri dari petani dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Peningkatan populasi petani tersebut mengakibatkan berkurangnya lahan yang dapat diolah sehingga memaksa mereka mengembangkan lahan pertanian mereka dengan melakukan pembabatan hutan. Sebagai konsekuensinya muncul masalah longsor di musim hujan. Institut ekologi di Bandung telah mempelajari hal ini sejak tahun 1978, terutama tentang kondisi dasar daerah ini dan pemantauan serta pengelolaan lingkungan untuk meningkatkan standar hidup penduduk.

Kamis, 28 Juni 2018

5 Maret 2018

Malam itu, malam dimana saya membaca notifikasi facebook saya, ada seseorang yang tepat malam ini berulang tahun. Lalu ? Apa yang aneh ? Toh semua orang berulang tahun ?

Sebenarnya, tidak ada yang aneh kalau saja ia masih ada. Ya... Ia sudah meninggal. Sejenak saja aku membuka halaman profilnya, berniat mengucapkan. Namun, jemari saya tertahan. Ia sudah tiada, lantas untuk apa saya ucapkan selamat ulang tahun ? Rasanya aneh, seperti mengucapkan selamat pada bayi yang belum lahir. Sejenak saya berpikir, mungkin bukan ucapan selamat ulang tahun yang seharusnya saya ucapkan. Karena umurnya sudah terhenti, tepat ketika ia menghembuskan napas terakhirnya. Mungkin mengingat hari kelahirannya lebih tepat. Kita bersuka cita bukan karena umur ia bertambah, tapi karena pada hari ini seorang yang baik telah lahir. Sekali lagi selamat hari lahir. Mungkin umurmu tidak akan bertambah, tapi hari lahirmu masih di ingat. Bukankah orang baik tidak di peringati ketika ia mati, tapi ketika ia hidup. 😊

Alm.Barkah Riadi (lahir, bdg 5 maret 1989. Wafat, 11 februari 2018)

Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wa'aafiyatan filjasadi wa ziyaadatan fil'ilmi wa barokatan fir rizqi wa taubatan qoblal mauti wa rohmatan 'indal mauti wa maghfirotan ba'dal mauti. Aamiin 

Rabu, 27 Juni 2018

Kubur itu memanggil manusia dengan 5 seruan

Kalian tahu gak??
Ternyata setiap hari kubur itu memanggil manusia dengan 5 seruan :

1. Aku adalah rumah orang sendirian maka carilah teman yang setia untukmu dengan banyak membaca Al-qur'an.

2. Aku adalah rumah kegelapan maka terangilah aku dengan salat malammu.

3. Aku adalah ular besar maka bawalah penawarnya dengan membaca "Bismillahirrahmaanirrahim" yang disertai dengan mengalirkan air mata (karena rasa takutnya kepada Allah swt).

4. Aku adalah rumah debu maka bawalah tikar dengan banyak beramal shaleh.

5. Aku adalah rumah pertanyaan Munkar dan Nakir maka perbanyaklah diatas punggungku dengan membaca " laa ilaha ilallah muhammadur rasulullah" supaya kita bisa menjawab pertanyaan dari Munkar dan Nakir.

Sabtu, 23 Juni 2018

Kampungku, wilayahku, tempat nyaman bagiku

Kampungku, wilayahku, mungkin jika di bandingkan dengan daerah Kota Bandung termasuk wilayah yang terbilang desa. Tapi bagiku, daerah ini tempat ternyaman bagiku tinggal di bandingkan di sana.

Rumah yang berada dekat dengan masjid dan lingkungan pesantren, menimbulkan suasana tersendiri bagiku. Nyaman, tenteram, dan adem.

Ketika di kota Bandung, suasana sore dan malam menjadi sebuah kebisingan di jalanan, atau menjadi sebuah alasan orang-orang untuk berpergian mencari tempat makan dan sebagainya, namun masjid-masjid di sekelilingnya tidak dipenuhi oleh mereka layaknya jalanan yang penuh dengan hiruk piruk. Terpenuhi oleh sebagian manusia yang tumpah di mall-mall atau bahkan di jalanan tapi apa daya dengan masjid yang hanya di isi oleh beberapa orang-orang yang sudah lanjut usia.

Sedangkan disini tepatnya di wilayahku, beda jauh dengan kondisi di luar sana. Ketika menjelang maghrib wilayahku ini sudah agak sepi karena orang-orang baik yang tua atau para pemuda pemudi, meraka sedang memenuhi ubin masjid, bukan memenuhi jalanan. Setelah usai isya, lantunan - lantunan ayat suci al-qur'an pun terdengar setelah itu di lanjutkan dengan solawatan-solawatan yang merdu dan enak di dengar.
Inilah yang membuatku nyaman berada disini.

Kamis, 14 Juni 2018

Gema Takbir Idul Fitri

Allaahu akbar... Allaahu akbar... Allaahu akbar...
Laa illaaha illallaahu wallaahu akbar.. Allaahu akbar walillaahil hamd..

Gema takbir mulai berkumandang. Pengeras masjid yang biasnya hanya diisi dengan lantunan ayat suci al-qur'an, kini mulai di hiasi suara merdu senandung takbir, pertanda akhir bulan Ramadhan, tapi senandung kemenangan yang menandakan datangnya hari raya yang membawa manusia kembali pada fitrahnya. Hari raya yang juga disebut hari raya Idul Fitri ini disambut meriah oleh segenap umat muslim di segala penjuru dunia. Lantunan takbir mulai bergema selepas adzan maghrib. Pengeras suara setiap masjid saling bersahutan. Gemuruh takbir terdengar disetiap penjuru wilayah.

Ada berbagai cara yang dilakukan umat muslim dalam menyambut datangnya hari raya ini.

Keheningan malam biasanya, tapi kini malam ini pun berganti ditemani lantunan takbir sepanjang malam. Sepertiga malam yang biasanya hanya dilewati sujud sunyi dalam tahajjud, kini ditemani dengan iringan takbir. Kumandang takbir ini akan berlanjut hingga matahari esok mulai menampakan sinarnya di ufuk timur. Lautan manusia mulai merapat ke masjid pada esok hari. 

Pagi esok, suasana masjid akan sedikit berbeda. Pelataran masjid yang biasanya dimanfaatkan santri/anak kecil yang mengaji untuk bermain, mulai esok terhampar kar0et berwarna hijau/merah. Karpet tersebut di gunakan untuk memfasilitasi warga sekitar yang ingin melaksanakan shalat Idul Fitri di masjid. 

Malam ini, suasana hangat mulai terasa ketika gema takbir berkumandang di iringi dengan dentuman kembang api yang ditembakan ke atas langit hingga menembus kedalam kelenjar saliva.

Hangatnya sinar bulan malam ini melengkapi sinar kembang api yang terus menerus meledak diatas langit. Senyum lebar terlihat jelas dalam raut wajah setiap muslim.

Perut kenyang setelah berbuka puasa terakhir di bulan Ramadhan ini, hatipun senang. Itulah sedikit ungkapan yang bisa mewakili kondisi saat ini.

Rangkaian selebrasi kemenangan tak terasa telah usai. Semoga dapat bertamu dengan gema takbir selanjutnya dengan segala keberkahan yang ada di dalamnya.


Aamiin... 

Atas nama Nadya pribadi mengucapkan..  Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin..