Jumat, 15 Desember 2017

Malam Juga Punya Cerita

Aku lebih menyukai gelapnya malam dengan sinar rembulan di bandingkan jingganya senja.

Sejatinya, senja memang indah. Ia mampu membuat takjub siapapun yang melihatnya. Ia dapat dengan mudah membuat orang terpana karena keelokannya. Ia juga mampu membuat para pujangga menuliskan puisi tanpa adanya aksara-aksara puitis

Berbeda dengan malam.

Malam memang tidak dapat terlihat. Tidak cukup indah ketika dipandang. Apalagi bila bintang merajuk. Tentu langit akan menjadi sepi.

Akan tetapi, sejuknya malam masih dapat dirasakan. Gelapnya malam mampu membuat jiwa ini untuk merenung. Kembali bermuhasabah diri. Memikirkan apa yang telah terjadi selama ini. Semakin baik ? Atau justru semakin tidak terkontrol ? Mengevaluasi sikap dan perilaku terhadap sesama. Baik kah ? Atau semakin buruk ? Memikirkan serta mencari solusi terbaik untuk masalah yang sedang dihadapi.

Gelap bukan berarti kelam. Begitu juga dengan malam. Ia memang tidak cukup indah bila di bandingkan dengan senja. Namun, malam mempunyai makna yang lebih dibanding senja. Karena, hanya pada saat malam, orang-orang dapat lebih banyak memikirkan tentang dirinya, keluarga bahkan orang-orang yang di kasihinya.

Hebat bukan ?

Yah.. malam pun juga punya ceritanya sendiri. Dan aku lebih menyukai gelapnya malam, dibanding jingganya senja.

Pesanku Untuk Mereka

Broken Home bukanlah akhir dari segalanya bagi kehidupanku. Jalanku masih panjang untuk menjalani hidupku sendiri.


Pergunakanlah situasi ini sebagai sarana dan media pembelajaran guna menuju kedewasaan.

Ingat...

Aku tidak sendiri dan bukanlah orang yang gagal. Aku masih bisa berbuat banyak serta melakukan hal positif.

Menjadi manusia yang lebih baik belum tentu aku dapatkan bila semua ini terjadi.

Mungkin saja ini merupakan sebuah jalan baru menuju pematangan sikap dan pola pikirku.

Selasa, 12 Desember 2017

Baca yaa!!!

Diary Depresiku

Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang mungkin luka dihati
Luka yang seharusnya dapat terobati
Yang ku harap tiada pernah terjadi

Ku ingat saat ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yanag hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandigkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Penggalan lirik dari "Diary Depresiku" nya last child mungkin cocok buat kisah hidup aku, setidaknya mendekati. Salut aku sama lagu ini, bukan hanya karena kisahnya "mendekati" kisah aku. Tapi menurut aku jarang sebuah band yang mengangkat tema tentang "Broken Home" tapi bisa boominh di pasaran. Aku memang salah satu korban "Broken Home" diantara sekian banyak korban "Broken Home" dimuka bumi ini.

Aku bisa bayangin gimana perasaan korban-korban "Broken Home" saat denger lagu ini. Dan aku "sangat hanyut" kalo dengerin reffrain dari lagu ini. Sekuat-kuatnya korban "Broken Home", pasti jauh dari dalam lubuk hatinya menjerit iri sama mereka yang punya "keluarga utuh".

Dan gak bisa di pungkiri, langsung atau gak langsung, disadari atau enggak, emang bener, "Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan". Mungkin masih mending bagi mereka korban "Broken Home" dari keluarga "punya/mapan", lantas bagaimana dengan mereka yang jadi korban "Broken Home" dari keluarga yang biasa-biasa aja, bahkan mungkin dari keluarga orang "gak punya" ??

Mungkin kalian belum berfikir bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang mengalami "Broken Home" ? Tak buruk memang.

Hanya saja efek yang di tinggalkannya setelah itu. Bukan tentang bagaimana kita nanti, bukan bagaimana kasih sayang yang kita akan dapatkan. Hanya saja bagaimana kita bertanggung jawab atas diri kita.

Seperti kasus nyata diriku sendiri. Aku adalah seorang anak "korban" dari keluarga yang broken home. Keluargaku terpecah, pada saat aku mengetahui hal itu ada rasa sakit yang aku rasa tetapi entah mengapa rasa itu terkalahkan oleh topeng yang harus aku tunjukkan pada dunia.

Broken home tidak menahanku untuk tertawa, untuk bermain, untuk mengejar cita-cita, dan untuk semua hal yang aku inginkan.

Pernah aku berfikir apakah aku harus seperti "mereka" ? Yang melarikan diri ke narkoba, hidup dijalanan, tak mengenal aturan dan yang lebih parah tidak memiliki masa depan. Tapi dukungan terus mengalir padaku untuk tetap berdiri, untuk tetap bertahan dan untuk etap tersenyum.

Awalnya aku tak menanggapi omongan mereka, toh mereka tak tau apa yang aku rasakan, perasaan menjadi seorang korban "Broken Home", untuk apa aku mendengarkan mereka.

Tapi aku sadar akan satu hal "aku tak mau hidup susah", aku tak mau mengulangi kesalahan orang tuaku, cukup aku merasakan sakit saat ini. Karena suatu saat nanti aku akan menunjukan kepada mereka semua, bahwa cobaan yang aku alami tidak dapat menahanku untuk menggapai dunia.


Aku mempunyai tekad yang kuat untuk itu, karena aku lelah dengan topeng-topeng ini. Aku menggunakan berbagai macam topeng karena aku tak mau terlihat menyedihkan, apalagi aku di kasihani. Aku tak mau seperti itu. Biarlah semua rasa sakit ini hanya aku yang merasakan, kalian cukup mendukungku dan memberikanku senyuman. Setiap senyuman kalian adalah kekuatanku untuk terus berlari dan sekolah untuk terus dan terus mencapai semua impianku.

Senin, 11 Desember 2017

Impian

Artikel saya kali ini ingin membahas sesuatu yang sedikit menjadi sebuah kegelisahan.


Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Bu guru sering sekali melontarkan pertanyaan pada muridnya "Besok kalau sudah besar kalian ingin menjadi apa?" Merekapun menjawab dengan segala kepolosannya.

"Saya ingin menjadi dokter biar bisa menyembuhkan orang-orang sakit."

"Saya ingin menjadi presiden biar terkenal dan banyak uang."

"Saya ingin menjadi seorang guru supaya bisa seperti bu guru."

Bahkan tak jarang juga ada yang menjawab dengan lantangnya. "Saya ingin menjadi sailormoon biar bisa menyelamatkan dunia dari musuh-musuh orang jahat haha 😂😂" ahh jadi ingat masa-masa TK yang indah dulu hehe.

Namun, pada kenyataanya setelah mereka beranjak dewasa, banyak sekali di temukan berbagai penyimpangan cita-cita. Semisal, saja dulu ada seorang anak yang saat kecil ingin menjadi dokter tetapi sekarang mengatakan buat apa menuntut ilmu setinggi mungkin toh nanti kita jadi buruh dan menikah. Adapula opini yang beredar di masyarakat, buat apa kuliah? Apa kalau kita kuliah itu sudah menjamin kalau kita bisa mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan sesuai dengan prodi? Justru banyak sekali orang yang mendapatkan pekerjaan yang sangat menyimpang.

Apakah semangat untuk mengejar cita-cita harus terpatahkan dengan opini-opini tersebut. Bukankah kuliah untuk mewujudkan impian, kuliah bukan ajang buat kita untuk memiliki pacar seorang dokter atau apalah. Semua kembali kepada yang menjalani, insya allah tuhan memiliki rencana yang di persiapkan untuk setiap hamba-hambanya. 

Always keep the faith guysss...

Selasa, 05 Desember 2017

Ini Tentang Kepribadian

Saya ya saya, bukan kamu, bukan elo, bukan anda, dan tentu saja bukan mereka.

Nadya itu gimana sih orangnya?

Jangan tanya saya, bahkan saya juga belum mengenal seperti apakah saya sebenarnya, buktinya saya ikut test kepribadian dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan (yang tidak perlu saya jawab dengan menggunakan rumus matematika, fisika bahkan statiska) yang sangat mudah. Entah apa kolerasinya yang pasti ada hasil yang bertuliskan karakteristik kepribadian saya setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan voila... memang kira-kira begitulah diri saya sebenarnya.

Dan inilah hasilnya yang tanpa saya kurangi, tanpa saya tambah-tambahi.

Saya adalah seorang yang plegmatis *buka kamus kurang lebih artinya adalah sifat yang pasrah, tidak suka bertengkar dan menurut saja mana yang paling mudah meskipun kadang tidak sesuai dengan kata hati.

Dan saya pun mengiyakan..

-iya "gue banget" kalau kata anak-anak gaul jaman sekarang. Saya orang yang tidak mau ribut, jika saya dalam posisi yang di rugikan, dituduh, atau di salahkan yang pada kenyataannya saya tidak seperti itu. Saya cenderung diam atau membela diri saya "seadanya", saya tidak mau berdebat lebih lama, oleh karena itu saya cenderung ngalah dan pada akhirnya saya kesal, saya bt dan nangis. Sampai-sampai seorang teman mengatakan "bodoh dan terlalu baik itu memang beda tipis". Ya... itulah saya.

Orang yang plegmatis mempunyai sifat umum : introvert, pengamat dan pesimis. Sebenarnya saya bisa saja introvert bisa saja ekstrovert (ambivert), jujur jika totalnya 100% maka 60% untuk introvert dan sisanya adalah ekstrovert. Saya lebih suka mengurung diri dikamar berjam-jam, atau pergi kesuatu tempat sendiri, atau mungkin nongkrong di salah satu tempat makan. Entah mengapa itu mengasikkan damai dan santai. Walaupun kadang saya juga merasa kalau sendiri itu menyedihkan dan mengerikan. Memang kalangan introvert banyak "di cap" orang aneh yang tidak mau atau tidak mudah bersosialisasi dengan orang lain, tidak luwes dan tidak fleksibel. Tetapi pernah saya membaca dalam sebuah artikel tentang kepribadian introvert (karena saya juga mulai khawatir dengan kondisi saya).

Carl Gustav Jung, seorang psikoanalisis yang menjadi kawan sekaligus murid Sigmun Freud mengemukakan bahwa kepribadian yang terbaik adalah introvert. Kebapa bisa begitu??

Menurut Jung, orang-orang introvert adalah mereka yang terampil dalam melakukan perjalanan kedunia dalam, yaitu diri mereka sendiri. Mereka selalu mencoba memahami diri mereka sendiri dengan melakukan banyak perenungan dan berkontemplasi. Pada akhirnya mereka menjadi orang yang memahami dirinya, berpendirian keras, tidak mudah terpengaruh orang lain, dan mengetahui apa yang menjadi tujuan dalam hidupnya.

Orang-orang introvert memiliki kendali atas dirinya sendiri, namun sering kali mengalami penolakan oleh lingkungannya. Sedangkan orang-orang ekstrovert dapat memiliki segalanya, kecuali satu, dirinya sendiri.

Alhamdulillah... ada hikmah dibalik kepribadian yang dicap aneh itu, yang memang dominan di diri saya. Kepribadian pengamat atau bahasa kerennya percelving yaitu selalu ingin tahu lebih banyak tentang kondisi sekitar, bertindak fleksibel, menjaga jarak dan menghindari kesan bodoh. Karena saya selalu takut untuk terlihat bodoh maka saya akan cenderung minder untuk bergaul dengan orang sekitar, lalu saya akan pesimis dengan apa yang sudah saya lakukan. (Nampaknya logika yang cukup bagus)

Dan kali ini saya mengiyakan (lagi)...

Ada kelemahan dan kelebihan yang terdapat pada seorang yang berkepribadian plegmatis ini : 

*kelemahan

- Seperti tidak ada masalah (padahal sebenernya disimpen sendiri). - Melawan perubahan (saya mempunyai kecenderungan melakukan hal yang sama dan sulit berubah). - Punya kemauan baja yang tenang (gejala keras kepala yang akan muncul jika sudah terakumulasi).

*kelebihan

- Sebagai pribadi (rendah hati, mudah bergaul, santai, diam, tenang, sabar, seimbang, cerdas, simpatik dan baik hati, menyembunyikan emosi, bahagia menerima kehidupan, serbaguna) #emangnya saya gedung 😆

-  Sebagai pekerja (cakap dan mantap, damai dan mudah sepakat, punya kemampuan administratif, menjadi penengah, menghindari konflik, baik di bawah tekanan, menemukan cara yang mudah.

- Sebagai teman (mudah diajak bergaul, menyenangkan, tidak suka menyinggung, pendengar yang baik, selera humor tinggi, suka mengawasi orang, punya banyak teman , berbelas kasihan, dan perhatian)

*apakah saya seperti itu teman???

Dan begitulah katanya kepribadian saya. Bagaimanapun diri saya, saya tetap mau menjadi diri saya sendiri.