Diary Depresiku
Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang mungkin luka dihati
Luka yang seharusnya dapat terobati
Yang ku harap tiada pernah terjadi
Ku ingat saat ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yanag hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandigkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Penggalan lirik dari "Diary Depresiku" nya last child mungkin cocok buat kisah hidup aku, setidaknya mendekati. Salut aku sama lagu ini, bukan hanya karena kisahnya "mendekati" kisah aku. Tapi menurut aku jarang sebuah band yang mengangkat tema tentang "Broken Home" tapi bisa boominh di pasaran. Aku memang salah satu korban "Broken Home" diantara sekian banyak korban "Broken Home" dimuka bumi ini.
Aku bisa bayangin gimana perasaan korban-korban "Broken Home" saat denger lagu ini. Dan aku "sangat hanyut" kalo dengerin reffrain dari lagu ini. Sekuat-kuatnya korban "Broken Home", pasti jauh dari dalam lubuk hatinya menjerit iri sama mereka yang punya "keluarga utuh".
Dan gak bisa di pungkiri, langsung atau gak langsung, disadari atau enggak, emang bener, "Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan". Mungkin masih mending bagi mereka korban "Broken Home" dari keluarga "punya/mapan", lantas bagaimana dengan mereka yang jadi korban "Broken Home" dari keluarga yang biasa-biasa aja, bahkan mungkin dari keluarga orang "gak punya" ??
Mungkin kalian belum berfikir bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang mengalami "Broken Home" ? Tak buruk memang.
Hanya saja efek yang di tinggalkannya setelah itu. Bukan tentang bagaimana kita nanti, bukan bagaimana kasih sayang yang kita akan dapatkan. Hanya saja bagaimana kita bertanggung jawab atas diri kita.
Seperti kasus nyata diriku sendiri. Aku adalah seorang anak "korban" dari keluarga yang broken home. Keluargaku terpecah, pada saat aku mengetahui hal itu ada rasa sakit yang aku rasa tetapi entah mengapa rasa itu terkalahkan oleh topeng yang harus aku tunjukkan pada dunia.
Broken home tidak menahanku untuk tertawa, untuk bermain, untuk mengejar cita-cita, dan untuk semua hal yang aku inginkan.
Pernah aku berfikir apakah aku harus seperti "mereka" ? Yang melarikan diri ke narkoba, hidup dijalanan, tak mengenal aturan dan yang lebih parah tidak memiliki masa depan. Tapi dukungan terus mengalir padaku untuk tetap berdiri, untuk tetap bertahan dan untuk etap tersenyum.
Awalnya aku tak menanggapi omongan mereka, toh mereka tak tau apa yang aku rasakan, perasaan menjadi seorang korban "Broken Home", untuk apa aku mendengarkan mereka.
Tapi aku sadar akan satu hal "aku tak mau hidup susah", aku tak mau mengulangi kesalahan orang tuaku, cukup aku merasakan sakit saat ini. Karena suatu saat nanti aku akan menunjukan kepada mereka semua, bahwa cobaan yang aku alami tidak dapat menahanku untuk menggapai dunia.
Aku mempunyai tekad yang kuat untuk itu, karena aku lelah dengan topeng-topeng ini. Aku menggunakan berbagai macam topeng karena aku tak mau terlihat menyedihkan, apalagi aku di kasihani. Aku tak mau seperti itu. Biarlah semua rasa sakit ini hanya aku yang merasakan, kalian cukup mendukungku dan memberikanku senyuman. Setiap senyuman kalian adalah kekuatanku untuk terus berlari dan sekolah untuk terus dan terus mencapai semua impianku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar