Senin, 31 Agustus 2015

Katanya Pendidikan Tapi kok Berkasta


"...Mencerdaskan kehidupan bangsa...
"Bagaimana kita dapat mewujudkan kalimat yang tertuang
dalam UUD 1945 itu,, jika untuk mendapatkan pendidikan saja masih terbagi
dalam kelas-kelas khusus. Pendidikan itu kan pondasi vital sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan bibit-bibit pemimpin masa mendatang lahir dari rangkaian profesi pendidikan. Namun, mengapa pendidikan saat ini menjadi hal yang sulit dijangkau. Ibarat barang yang di obral,, itulah cermin pendidikan Indonesia masa kini. Mirisss!!!
Pada mulanya dicanangkn oleh Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (SRBI) agar
menghasilkan
lulusan kompetensi yang memiliki daya saing setara Internasional.
Penguasaan dalam bidang tekhnologi serta menghasilkan lulusan yang berbasic
riset akan tetapi menuai pergolakan dalam pelaksanaannya. Dualisme bahasa
Indonesia dan bahasa asing yang diterapkan, dinilai mengikis unsur kecintaan
kita pada bahasa Indonesia ketika bangsa lain tertarik mempelajari bahasa yang
merupakan akulturasi dan berbagai macam bahasa daerah yang tersebar diseluruh
pulau nusa, kenapa kita yang memiliki juga menggunakan bahasa tersebut dari
lahir justru secara tidak langsung menyingkirkan penggunaan bahasa indonesia
dalam profesi ngajar-mengajar.
Selintas
teringat penggalan isi Sumpah Pemuda yang berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia"
Jelas
sudah keinginan pemuda-pemudi pendahulu kita dengan bangga nya menjunjung
tinggi bahasa pemersatu kita, bahasa Indonesia, kita sebagai penerus tidakkah
bangga akan bahasa Indonesia ?? Ketika kita bangga dengan bahasa Indonesia,
maka kita tidak akan kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.
Tuntutan
murid SRBI yang harus sesuai dengan lulusan kompetensi nyatanya tidak di
imbangi dengan perbaikkan kualitas pengajar. Masih banyak pengajar yang tidak
sesuai dengan kriteria, disamping itu beberapa guru menyalah artikan "guru
sebagai gasilitator"
SRBI
potret kekhawatiran besar para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya tapi
terbentur oleh biaya. Uang selalu memegang kontrol penuh dalam sistem
pendidikan Indonesia saat ini. Apalagi saat di berlakukannya SRBI, maka
pungutan biaya akan lebih mahal dari pada sekolah biasa dengan alasan pungutan
dialihkan pada fasilitas ekstra.
Ditinjau
secara psikologis, status SRBI membuat murid terbagi menjadi beberapa kelas
sosial dan kasta tertentu.
Banyak
murid pintar tapi dengan latar belakang ekonomi menengah kebawah akan terlihat
berbeda pergaulan dengan murid pintar yang latar belakang ekonomi keatas. Lalu
ketika seleksi nasional masuk perguruan tinggi (SNMPTN) dibanding sekolah yang
tidak menyandang SRBI. Hal ino perlu di soroti karena banyak anak pintar juga
cerdas lahir dari sekolah non SRBI yang karena terbentur biaya maka mereka
tidak bisa mengenyam pendidikan di sekolah SRBI , karena keputusan peluang
besar diberikan pada sekolah SRBI maka beberapa anak pintar juga cerdas di
sekolah non SRBI gagal kualifikasi SNMPTN undangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar